Saturday, March 17, 2018

William The Bastard Menjadi Conqueror

William The Bastard Menjadi Conqueror
William The Conqueror

William I Inggris (1027 — 9 September 1087) juga dikenal sebagai William Sang Penakluk (bahasa Perancis:Guillaume le Conquérant) atau William dari Normandia awalnya diejek sebagai William tha Bastard, lahir di Falaise, salah satu kota di kadipaten Normandia, Perancis.
Sejarah William tidak dapat dipisahkan antara Prancis dan Inggris, William the Conqueror adalah seorang raja yang tidak diragukan lagi meninggalkan kejayaan di masa lalu.
Berasal dari Normandia, dia adalah satu-satunya raja yang berhasil menaklukkan Inggris seutuhnya sehingga banyak mengilhami orang-orang jenius dan para ahli militer kedepannya, banyak orang mencoba mengikuti jejaknya namun tidak akan pernah dapat menyaingi keberhasilannya, William the Conqueror yang sebelumnya disebut William the Bastard, dianggap sebagai salah satu raja inggris yang berpengaruh.

Masa muda William the Bastard
William The Bastard Menjadi Conqueror
Ilustrasi William muda

William lahir di Falaise sekitar tahun 1027. Dia adalah putra Robert the Magnificent dan Arlette (Herleva) of Falaise. William dijuluki "Bajingan atau anak haram", karena ibunya hanyalah salah satu selir Robert, memang di awal milenium pertama saat itu, Normandia masih diatur menurut undang-undang Viking yang memberi wewenang kepada seorang pria untuk memiliki beberapa pasangan. Sebenarnya menurut undang-undang/adat Normandia saat itu, mereka bisa diakui sebagai pasangan yang sah, namun Gereja tidak mengakuinya, akibatnya William dianggap sebagai anak haram hasil pasangan diluar nikah, namun bagaimanapun juga, Robert sangat menyayangi William dan menganggap William sebagai anak sahnya, diapun menunjuknya sebagai penggantinya setelah kematiannya kelak. Robert meninggal pada tahun 1035 dan William the Bastard menjadi Adipati Normandia pada usia tujuh tahun, ibu William kemudian menikahi Viscount of Conteville dan melahirkan beberapa saudara tiri bagi William, mereka adalah Muriel, Robert dan Odo (Odo kelak menjadi Uskup Bayeux yang membuat permadani Bayeux). Pada tahun 1052 William menikah dengan Matilda dari Flanders.

William The Bastard Menjadi Conqueror
Robert the Magnificent, ayah William

Sampai usia 19 tahun, William berhasil menghindari sejumlah percobaan pembunuhan terhadap dirinya, adipati muda ini kemudian memutuskan untuk mengalahkan para rivalnya dengan bantuan Raja Henry I dari Prancis.
Kemenangannya di Pertempuran Val ès Dunes pada tahun 1047 menandai titik balik pada kehidupan William muda, memberikan pengalaman yang berharga bagi perang penaklukannya dikemudian hari.


Pernikahan dengan Matilda
William The Bastard Menjadi Conqueror
Matilda , Istri William

Pada tahun 1049, sebuah pernikahan diatur antara William muda dan Matilda dari Flanders, yang merupakan putri Count of Flanders dan keponakan Henry I dari Prancis, Namun pernikahan ini sempat terhalang karena Paus Leo IX tidak menyetujui pernikahan ini atas berbagai alasan, namun Gereja akhirnya menyetujui pernikahan tersebut pada tahun 1053 karena William menjanjikan untuk membangun beberapa rumah sakit dan juga 2 bangunan gereja untuk otoritas Kristen.
Berkat pernikahan ini, posisi William menjadi semakin kuat karena Perancis utara dan Belgia menjadi sekutu, dalam waktu yang dekat pula, William pergi ke Inggris untuk mengukuhkan hubungan antar dua wilayah ini yang rajanya merupakan teman William juga, Edward the Confessor.

Janji William dan Matilda dilunasi 6 tahun kemudian pada tahun 1059, yaitu dilaksanakannya pembangunan Biara Men"s, yang didedikasikan untuk St. Stephen, dan Ladies "Abbey, yang didedikasikan untuk Trinitas mahakudus.
Namun, masa damai ini tidak berlangsung lama, musuh-musuh William untuk sekali lagi mengangkat senjata melawan William, ditambah Henry I dari Prancis pindah ke posisi politik yang berbeda dengan mendukung musuh-musuh William karena pernikahan William dengan Matilda telah memberinya wilayah yang jauh terlalu luas yang merupakan ancaman bagi Raja Prancis.


Battle of Varaville
William The Bastard Menjadi Conqueror
Henry I

William menyusun rencana strategis yang ditujukan untuk melawan tentara Raja Prancis dengan cara membokongnya dari belakang, sementara Henry dan sekutunya percaya bahwa mereka telah berhasil menaklukkan wilayah William, pasukan raja perancis menyeberangi sungai Orne untuk menaklukan dan menjarah wilayah William, Williampun mengambil keuntungan dari kecerobohan ini untuk menyerang mereka dari belakang dan menghancurkan sebagian besar jumlah tentara gabungan raja Perancis dan sekutu-sekutunya.

Setelah kemenangan besar atas raja Henry pada Pertempuran Varaville, Henry memutuskan untuk berhenti berurusan dengan William dan tidak pernah mencoba untuk mengganggu Normandia lagi.
Pada saat ini, William mulai memperkuat kekuatannya, dengan menunjuk teman dekat yang dipercayainya untuk menduduki posisi kunci di lokasi-lokasi yang strategis di Normandia.
Pada 1060, William membangunan benteng Caen, di sebuah lokasi yang memungkinkannya untuk mengontrol semenanjung Cotentin.


Saling klaim setelah kematian Edward The Confessor
William The Bastard Menjadi Conqueror
Wafat Edward the Confessor

Edward the Confessor meninggal pada tanggal 5 Januari 1066 tanpa ahli waris untuk menggantikannya sebagai raja, sebelumnya dia sepertinya telah menjanjikan tahtanya secara pura-pura kepada beberapa orang sekaligus termasuk William The Bastard selama kunjungannya ke Normandia pada tahun 1051.

Edward the Confessor memang cukup Normanophile, dia adalah anak Emma dari Normandia dan ketika ayahnya digulingkan dari tahta Inggris oleh Sweyn Forkbeard, Raja Norwegia, dia mencari perlindungan di Normandia dan tinggal selama tiga puluh tahun disana. Ketika dia kembali berkuasa pada tahun 1042, dia memilih untuk mengelilingi tahtanya dengan orang-orang Normandia yang baginya merupakan sekutu yang benar-benar dipercayainya, namun hal ini tidak sesuai dengan keinginan orang Saxon.

William The Bastard Menjadi Conqueror
Harold Godwinson

Edward adalah penguasa yang lemah, sebelum kematiannya dia berjanji kepada banyak orang untuk menduduki tahtanya. Kelak Janji-Nya ini membuat beberapa orang mengangkat senjata setelah kematiannya karena semuanya mengklaim bahwa masing-masing dari mereka adalah satu-satunya penerus yang sah atas kerajaan Inggris.
Ketika William diberitahu bahwa Harold Godwinson dinobatkan sebagai pengganti Edward, dia segera meyakinkan para baron Norman untuk berangkat dengan dia dengan satu tujuan, menaklukkan Inggris.


Battle of Hasting
William The Bastard Menjadi Conqueror
Bayeux Tapestry Scene

William kemudian mengumpulkan tentara dan armada kapal, banyak tentara bayaran ikut dalam invansi tersebut. Armada William mendarat di pantai selatan Inggris di Pevensey pada tanggal 28 September 1066, disaat yang bersamaan pasukan Inggris dibawah komando Raja Harold baru saja bertempur melawan pasukan Norwegia yang dipimpin oleh Raja Hardrada di Utara Inggris. Harold dan pasukannya melakukan pawai kemenangan ke York setelah memenangkan pertempuran yang berdarah-darah dengan Viking Norway pada tanggal 25 September namun kemudian langsung melakukan perjalanan paksa lagi ke Inggris Selatan untuk menemui William pada tanggal 14 Oktober. Kedua tentara tersebut bertemu di Senlac. 

William The Bastard Menjadi Conqueror
Battle of Hasting

William dengan pakaian tempur lengkap berada di baris depan pertempuran, memberi semangat kepada pasukannya. Ada sesekali teriakan terdengar didalam rombongan tentaranya bahwa dia telah gugur sehingga menciptakan suatu kepanikan, namun segera William membuka helmnya diatas kuda dan berteriak, "Aku hidup! Aku masih hidup! Berjuanglah! Kita akan menaklukkannya!". Pertempuran berlangsung dengan keras hingga Raja Harold dan saudara laki-lakinya terbunuh dalam pertempuran tersebut, William menang dan dinobatkan sebagai Raja Inggris di Westminster Abbey pada tanggal 25 Desember 1066, orang Normandia diberi penghargaan atas tanah Inggris.

Setelah William menjadi raja atas seluruh Inggris, terjadi berbagai pemberontakan melawan Raja William I baik itu di Normandia dan di Inggris sehingga William harus bolak-balik antar kedua wilayah tersebut untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan yang terus terjadi. Saudara tirinya, Odo yang merupakan Uskup Bayeux, dijadikan Earl of Kent dan menjadi Wakil William di Inggris dan di bawah instruksinya permadani Bayeux yang megah dibuat menggambarkan invasi pasukan Normandia.


Pemberontakan masyarakat Inggris dan perang dengan Raja Perancis
William The Bastard Menjadi Conqueror
William naik Tahta

William tinggal di Inggris untuk menekan pemberontakan yang dilakukan oleh orang Inggris yang menolak pemerintahannya, dia memerintahkan pembangunan beberapa perbentengan di seluruh negeri, termasuk Warwick Castle dan Nottingham Castle, dia juga membangun beberapa castral(sejenis camp militer/barrack) untuk tentara-tentaranya, beberapa sisa bangunan ini masih bisa dilihat hingga saat ini di Inggris utara.
William The Bastard Menjadi Conqueror

William pergi ke Normandia pada bulan Maret 1067, namun kembali lagi ke Inggris pada bulan Desember tahun yang sama. Beberapa bulan kemudian, pada bulan Mei 1068, Matilda dinobatkan sebagai Ratu Inggris.
Untuk benar-benar memastikan tonggak kekuasaannya, William membakar desa-desa, membantai ternak-ternak dan membuat kelaparan kepada penduduk yang tidak mau mengakui kekuasaannya hingga menyebabkan serentetan pemberontakan yang terjadi di seluruh negeri sampai tahun 1070.

Masalah baru kemudian muncul, Raja Prancis Philip I, Pangeran Anjou, dan Count of Flanders bersekutu melawan William dengan harapan bisa merebut Normandia.
Pertengkaran antara Raja Prancis, Philip I, dan Raja Inggris, William the Conqueror, menjadi perang pertama antara Prancis dan Inggris.


Karya lanjutan William dan akhir hidupnya
Ratu Matilda Istri William meninggal pada tanggal 2 November 1083. Selama hidupnya, dia secara berhasil membantu dan memerintah Normandia selama William berada di Inggris, mereka juga berhasil menjadi pasangan yang solid dan setia, tidak ada gundik yang dikaitkan dengan William the Conqueror, tidak ada anak haram dan tidak ada perselingkuhan dalam hubungan mereka, yang pada saat itu sangat jarang terjadi.

William menugaskan penyusunan Buku Domesday pada Natal 1085. Ini adalah sensus pertama yang disusun di Inggris. Buku ini merupakan inventarisasi tanah, ternak dan sumber daya yang tercatat secara detail, William memang berhasil menaklukkan Inggris, namun dia belum menyadari kekayaan asli masing-masing wilayah, sehingga buku tersebut kemudian memungkinkannya untuk menghitung pajak yang sesuai yang bisa ia pungut. The Doomsday Book yang dibuat pada tahun 1086 dan berisi catatan rinci tentang 13.418 permukiman di Inggris.
Saat ini, Domesday Book tetap menjadi karya yang sangat terkenal di Inggris dan terdaftar di National Archives. 

William The Bastard Menjadi Conqueror
Domesday book


William The Bastard Menjadi Conqueror
Kepeleset dari kuda

William memimpin sebuah pertempuran pada tahun 1087, di mana dia membakar kota Mantes, saat itu ia telah menderita obesitas yang menghambat pergerakannya dalam pertempuran tersebut. Diapun terjatuh dari kudanya dan terluka dalam pertempuran hingga dia dilarikan ke Rouen. Dia meninggal pada tanggal 9 September 1087. Putranya, Robert menjadi Duke of Normandy, sementara anaknya yang lain, William Rufus, menjadi Raja Inggris.
William dimakamkan di Men"s Abbey. Sebelum kematiannya, dia meminta agar semua tahanan dibebaskan, asalkan mereka dapat menahan diri untuk tidak mengganggu ketertiban umum.

William The Bastard  Menjadi Conqueror
Nisan Raja William


Sumber
Sumber
Sumber
SUMBER

No comments:
Write comments

Artikel Menarik Lainnya

loading...